Selamat Datang di Dimensi KPK Profetik!

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 01 Desember 2009

PELAKSANAAN RUKYAT RAMADHAN 1430H

PELAKSANAAN RUKYAT RAMADHAN 1430H

Pada tanggal 30 Sya’ban yang bertepatan dengan hari Jumat 21 Agustus 2009 kemarin, di Laboratorium Terpadu UIN Sunan Kalijaga diadakan training sehari hisab rukyat penentuan awal Ramadhan. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama FKIS (Forum Kajian Islam Sains) fakultas Saintek dan HRRC (Hisab-Rukyat Research Center) laboratorium terpadu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini bermaksud memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para peserta training tentang tata cara rukyat hilal untuk menentukan awal bulan Qomariyah terutama awal bulan Ramadhan. Kegiatan yang menyedot 28 peserta tersebut dimulai dari pukul 08.00 WIB yang dibuka langsung oleh Pembina FKIS bapak Frida Agung Rahmadi, M.Si. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembekalan kepada para peserta dari pukul 08.30-15.00. Pembekalan diberikan oleh para pemateri yang sangat berpengalaman dalam hisab dan rukyat. Diantara pemateri tersebut, yaitu bapak Abdul Mughits, M.Ag., bapak Drs. Oman Fathurrahman, SW.M.Ag, bapak Iwan Kuswidi, M.Sc., dan bapak Thaqibul Fikri N., M.Si.
Pukul 15.30 peserta berangkat menuju pantai Samas untuk melakukan rukyatul hilal. Dipilihnya lokasi pantai ini karena horizon barat di Samas bebas dengan penghalang pandangan, para peserta yang ikut dalam rombongan tampak sangat antusias. Namun hanya 24 peserta yang ikut dikarenakan terdapat 4 peserta yang berhalangan hadir. Pukul 16.45 rombongan sudah sampai di pantai Samas. Selanjutnya rombongan langsung dipandu oleh bapak Iwan Kuswidi, beliau merupakan koordinator HRRC. Kegiatan di pantai Samas dimulai dengan menentukan lokasi yang ideal untuk merukyat hilal. Pada saat yang bersamaan terdapat juga rombongan dari Muhammadiyah yang dipandu oleh bapak Oman Fathurrahman, namun mereka berada pada posisi yang agak jauh. Lima teropong disiapkan agar peserta dapat dengan lebih jelas dalam merukyat hilal. Tepat pukul 17.30 para peserta mulai konsentrasi pada pergerakan matahari, karena jika kehilangan momen terbenamnya matahari akan sangat sulit menentukan letak hilal. Para peserta nampak sangat serius sampai ketika seorang peserta berteriak pertanda dia telah berhasil melihat hilal, selanjutnya peserta yang lain mulai bergerombol pada posisi peserta yang berhasil melihat hilal, tak lama kemudian seorang peserta yang bernama M. Taslim juga berhasil menemukan hilal. Pengamatan hilal dilakukan hingga pukul 18.30 karena menurut perhitungan saat itu hilal sudah terbenam. Ketika langit semakin gelap para peserta sudah mulai menyerah karena hilal yang mereka harapkan tak dapat terlihat lagi, kemudian beberapa peserta memutar arah teropong ke horizon timur, mereka menemukan benda langit lain yang menarik untuk di lihat, benda langit tersebut yaitu planet Jupiter. Acara di pantai Samas selesai pada pukul 18.45 WIB dan peserta langsung pulang menuju UIN Sunan Kalijaga. Pukul 20.00 rombongan sampai di UIN dan peserta melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing.

Jumat, 27 November 2009

SELAYANG PANDANG FORUM KAJIAN ISLAM DAN SAINS TEKNOLOGI (FKIST)

FKIST atau Forum Kajian Islam dan Sains Teknologi merupakan salah satu lembaga atau organisasi yang terbuka bagi civitas akademika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. FKIST merupakan organisasi tingkat fakultas yang berstatus lembaga independen di bawah Dekan Fakultas Saintek. Dan berazaskan pada nilai-nilai ke-Islaman, ukhuwah Islamiyah dan prinsip-prinsip keilmiahan.
FKIST atau Forum Kajian Islam dan Sains Teknologi merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang pengkajian Sains dan Islam. Organisasi ini muncul di tengah arus perkembangan Sains dan Islam kontemporer, yang salah satu wacana yang berkembang itu adalah tentang integrasi dan interkoneksi antara ilmu Sains dan ilmu agama Islam yang juga berupaya untuk menghilangkan sekat dikotomi antara keduanya.

BERDIRI : Yogyakarta, 26 Agustus 2008
ASAS : Nilai-nilai ke-Islaman, ukhuwah Islamiyah dan prinsip-prinsip keilmiahan.
SIFAT : Independen dan Otonom
STATUS : Independen di bawah Dekan Fakultas Saintek.
Munculnya FKSI ini dimotori oleh mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga mendapat dukungan dari pihak fakultas Saintek. Secara umum maksud dan tujuan dibentuknya Forum Kajian Sains dan Islam ini adalah:
1. Maksud
- Memberikan sebuah wadah yang mengkaji lebih mendalam tentang hubungan integritas dan interkoneksitas antara Sains dan Islam sebagai khasanah ilmu Islam.
- Menciptakan forum Ilmiah yang Islami sebagai salah satu wahana dakwah dan upaya untuk mempererat tali ukhwah di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga.
2. Tujuan
- Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep integrasi dan interkoneksi antara Islam dan Ilmu Sains.
- Meningkatkan kemampuan nalar kritis mahasiswa terhadap perkembangan Sains dan Islam kontemporer berdasarkan pada Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ayat-ayat naturalisme (Kauniyah).
- Diharapkan dapat membentuk kader mahasiswa Saintek yang unggul dalam hal FIKIR dan ZIKIR.
FKIS atau Forum Kajian Islam dan Sains memiliki agenda kegiatan diantaranya:
• Diskusi Ilmiah yang mengkaji tentang isu integrasi dan interkoneksi yang kontemporer.
• Seminar Mahasiswa dan Nasional
• Buletin FKIS
• Training Jurnalistik
• Pelatihan Hisab Rukyat.
• dll
Agenda tersebut dilaksanakan secara rutin sesuai dengan program kerja Forum Kajian Islam dan Sains. Untuk itu, Forum Kajian Islam dan Sains mewadahi semua aspirasi mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi yang ingin menambah ilmu dan pengalamannya tentang integrasi dan interkoneksi antara Islam dan Sains. Sejak berdirinya FKIS atau Forum Kajian Islam dan Sains hingga sekarang, FKIS memiliki Divisi-Divisi, diantaranya:
- Devisi Intern
- Devisi Kajian
- Devisi Humas
- Devisi Litbang
- Devisi Media dan Informasi
Dari semua divisi, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi akan mengasah potensi diri sesuai dengan Basic yang dimiliki untuk di kembangkannya.

Selasa, 21 April 2009

SAINS SEBAGAI PONDASI TEGAKNYA ISLAM

I. Pendahuluan

Allah SWT telah menciptakan manusia untuk menjadi kholifah di muka bumi ini. Sebagai hamba Allah yang diberi amanah yang berat itu, manusia diberikan kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam Al Quran Surat At-tin ayat 4 :

Artinya :

Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Bentuk yang sebaik-baiknya ini terwujud dalam diri manusia yang telah diberikan akal dan hati. Keduanya tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lainnya.

Akal diberikan agar manusia memiliki kemampuan kreatif dan mampu memikirkan segala bentuk ciptaan. Allah SWT serta mampu membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Dengan demikian manusia dapat mengambil hikmah-hikmah dibalik ciptaan Allah, sehingga amanah berat yang diembannya dapat dilaksanakan yaitu sebagai kholifah di muka bumi. Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memikirkan dan menjelajah ke seluruh penjuru langit dan bumi berikut isi dan segala konteksnya. Kecuali jangan pernah memikirkan Dzat Allah, karena alam pikiran manusia tidak akan pernah mencapainya. Hal ini adalah sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits Nabi: “Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah, sebab kamu tak akan mampu mencapaiNya”.

Demikian pula Allah berfirman dalam Surat Ar-Rahman ayat 33 :

Artinya :

Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Di dalam ayat di atas Allah memberi peringatan bahwa manusia tidak pernah akan mampu melakukan penjelajahan itu, kecuali dengan kekuatan (ilmu). Ilmu inilah yang merupakan kekuatan yang harus diberikan kepada akal manusia.

Sedangkan hati diberikan agar manusia mampu memilih dan memikirkan apa yang telah dipikirkan oleh akalnya bukan untuk menuruti hawa nafsu tetapi kebenaran yang dipilih adalah kebenaran yang haqiqi (kebenaran yang sesuai dengan syariat Allah).

Hati inilah yang akan membimbing manusia dengan ilmunya tetap menggunakan ilmu itu untuk kemanfaatan umat. Rasulullah telah memberi peringatan kepada kita : “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baiklah semuanya. Tetapi apabila segumpal darah itu rusak, rusaklah semuanya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati”.

Masalah berikutnya adalah kekuatan apa yang harus diberikan agar hati ini tetap terjaga baik. Tidak ada hal yang pantas kita berikan. Satu-satunya kekuatan yang dibutuhkan hati adalah agama Allah, agama Islam ini. Namun mengapa selalu terjadi benturan antara ilmu pengetahuan dan agama. Inilah masalah besar yang sering kita hadapi.

II. Sejarah Perkembangan Sains

Marilah sejenak kita mengikuti nasehat orang bijak yang mengatakan, “Belajarlah dari sejarah“. Dari catatan sejarah itu dapat kita ketahui adanya kurun waktu ketika berbagai penemuan teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia harus didahului dengan serangkaian pekerjaan tanpa kepastian dan sangat melelahkan serta meghabiskan beaya yang sebegitu besar. Yakni saat-saat ketika penemuan-penemuan diperoleh dengan cara coba-coba. Pada masa-masa itu, seringkali orang harus melakukan percobaan seribu kali sebelum berhasil mendapatkan sesuatu yang diimpikan atau bahkan gagal tiada hasil sama sekali.

Zaman ‘kegelapan’ ini pun berakhir, ditutup tatkala manusia mulai menyadari pentingnya pengetahuan tentang perilaku alam, yakni pengetahuan akan pola-pola keteraturan yang dianut oleh gejala-gejala alam. Dengan ilmu pengetahuan atau sains ini, usaha manusia untuk mendapatkan suatu teknologi tidak lagi harus menempuh jalur-jalur panjang yang penuh dengan spekulasi, tetapi sebaliknya sesuatunya dituntun dan diarahkan oleh sains. Dengan cara ini, teknologi berkembang dengan pesat dan tampak kepastiannya.

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan sains dikembangkan. Mungkin sejak awal keberadaan manusia di muka bumi. Sejak keberadaan mereka di muka bumi manusia telah mengenal pengetahuan tentang alam di sekitar mereka. Pada zaman prasejarah manusia telah mengenal sifat-sifat api, air, tanah dan lain sebagainya. Mereka me-manfaatkan pengetahuan itu untuk dapat bertahan menghadapi tantangan alam yang masih ganas. Sejenak kemudian mereka mengenal perunggu. Lalu dilanjutkan logam-logam yang lain. Yang jelas tercatat dalam sejarah adalah bahwa peradaban-peradaban kuno seperti Mahenjo-Daro (di sekitar India-Pakistan), Asyiria (Asia Barat), Mesir Kuno (sepan-jang sungai Nil di Afrika), Cina Kuno, Inca (di pegunungan Andes, Amerika Tengah), Maya (di Amerika Tengah) dan Aztec (di Meksiko) telah memiliki dan mengembangkan pengetahuan tentang bahan yang cukup maju. Pada jaman Yunani Kuno pengembangan sains mendapatkan penguatan tersendiri dalam nuansa filsafati yang kental. Setelah jaman Yunani Kuno ini seolah pengembangan sains mengalami jeda yang cukup panjang. Baru pada jaman keemasan Islam para ilmuwan Muslim, seperti Al-Biruni, Al-Idrisi, Al-Hazen, Al-Farabi dlsb., menggali kembali warisan perada-ban itu dan mengembangkannya sampai tahap yang menak-jubkan. Setelah itu peradaban yang cukup maju ini masuk ke Eropa melalui Andalusia (Spanyol) dan Semenanjung Bal-kan. Maka kemudian tercatat tokoh-tokoh klasik seperti Ro-ger Bacon, Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Isaac New-ton dan lain sebagainya hingga tokoh-tokoh awal abad ke dua puluh seperti Max Planck, Niels Bohr, Werner Heisen-berg, Erwin Schrödinger, Albert Einstein, Enrico Fermi. Tak ketinggalan pula, dari Asia kita mengenal fisikawan-fisikawan besar yang ikut merubah sejarah seperti Abdus Salam, Satyendranath Bose, Chandrasekhara-Venkata Raman, Hideki Yukawa, Leo Isaki dan lain sebagainya. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa fisika merupakan ilmu lintas bangsa. Puncak-puncak pengembangannya dipergilirkan dari satu bangsa ke bangsa yang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

III. Keterkaitan antara Sains dan Agama

F. Budi Hardiman menyampaikan melalui tulisannya di harian Kompas, Jumat, 02 Februari 2007, dalam “Sains dan Pencarian Makna: Menyiasati Konflik Tua antara Sains dan Agama”, secara garis besar, ada tiga posisi untuk memahami hubungan antara sains dan agama dalam pencarian makna. Dengan makna di sini dimaksudkan terutama ’kebenaran’. Pertama, sains dan agama memiliki teritorium yang berbeda dalam pencarian makna. Kedua, agama dan sains dapat dibawa ke dalam arena yang sama dalam pencarian makna. Dan ketiga, agama dan sains menerangi realitas yang sama, namun dengan perspektif yang berbeda.

Membahas mengenai keterkaitan antara sains dan agama memang sejak semula sangat menarik karena setiap pendapat akan ditanya mengenai hakekat keterkaitan tersebut. Apakah alam dan iman, iptek dan agama, harus menjadi tesis-antitesis? Masing-masing memiliki prinsip dan pembenaran sendiri. Yang pasti adalah, perbedaan pendapat, tesis-antitesis ini, menuntut penengahan debat. Diperlukan satu pemahaman untuk hakekat kemanusiaan yang lebih tinggi dalam kehidupan ini. Juga menyangkut harkat dan martabat dan integritas manusia sebagai khalifah di bumi ini.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berjalan dengan demikian cepat. Sementara itu, pemahaman yang terkait dengan pengembangan teknologi yang mendasarkan pada keimanan berjalan lebih lambat. Para ilmuwan berargumentasi bahwa semua penelitian dilakukan dengan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan, sebaliknya para agamawan lebih sibuk membicarakan persoalan akhirat dan pesan-pesan moral. Tidak heran jika selalu terjadi benturan antara ilmu pengetahuan dan agama.

Kaum agamawan memerlukan etika dalam arti, memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Orang beragama diharapkan menggunakan anugerah Sang Pencipta, yaitu akal budi. Jangan sampai akal budi dikesampingkan dari agama. Oleh karena itu kaum agamawan diharapkan betul-betul memakai rasio dan memahami ilmu pengetahuan serta kemajuan teknologi.

Pada sisi lainnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah dapat menjawab semua hal. Memang sains tidak dimaksudkan seperti itu. Hal yang membuat sains begitu berharga adalah karena sains membuat kita belajar tentang diri kita sendiri (Leksono. 2001). Oleh karenanya diperlukan kearifan dan kerendahan hati untuk dapat memahami dan melakukan interpretasi maupun implementasi teknologi dan ilmu pengetahuan manusia. Albert Einstein berkata dalam salah satu pidatonya bahwa ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta. Pergulatan Einstein dengan sains membawanya menemukan Tuhan. (Rakhmat. 2003).

Perkembangan selama ini menunjukkan bahwa sains didominasi oleh aliran positivisme, yaitu sebuah aliran yang sangat mengedepankan metode ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi metafisis, aksiologis dan epistemologis. Menurut aliran ini, sains mempunyai reputasi tinggi untuk menentukan kebenaran, sains merupakan ‘dewa’ dalam beragam tindakan sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain. Menurut sains, kebenaran adalah sesuatu yang empiris, logis, konsisten, dan dapat diverifikasi. Sains menempatkan kebenaran pada sesuatu yang bisa terjangkau oleh indra manusia.

Sedangkan agama menempatkan kebenaran tidak hanya meliputi hal-hal yang terjangkau oleh indra tetapi juga yang bersifat non indrawi. Sesuatu yang datangnya dari Tuhan harus diterima dengan keyakinan, kebenaran di sini akan menjadi rujukan bagi kebenaran-kebenaran yang lain.

Sains dan agama berbeda, karena mungkin mereka berbeda paradigma. Pengklasifikasian secara jelas antara sains dan agama menjadi suatu tren tersendiri di masyarakat zaman renaisan dan tren ini menjadi dasar yang kuat hingga pada perkembangan selanjutnya. Akibatnya, agama dan sains berjalan sendiri-sendiri dan tidak beriringan, maka tak heran kalau kemudian terjadi pertempuran di antara keduanya. Sains menuduh agama ketinggalan zaman, dan agama balik menyerang dengan mengatakan bahwa sains sebagai musuh Tuhan.

IV. Peran Sains dalam Menegakkan Islam

Sains memiliki peran yang sangat penting dalam menegakkan Islam. Kembali apa yang disabdakan Nabi dan yang difirmankan Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pemikiran dan eksplorasi terhadap alam semesta. Upaya penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai suatu ibadah manusia yang ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga demi masa depan kehidupan manusia. Pencarian ilmu bagi manusia agamis adalah kewajiban sebagai bentuk eksistensi keberadaannya di alam semesta ini. Ilmu pengetahuan dapat memperluas cakrawala dan memperkaya bahan pertimbangan dalam segala sikap dan tindakan. Keluasan wawasan, pandangan serta kekayaan informasi akan membuat seseorang lebih cenderung kepada obyektivitas, kebenaran dan realita. Ilmu yang benar dapat dijadikan sarana untuk mendekatkan kebenaran dalam berbagai bentuk.

Orang yang berilmu melebihi dari orang yang banyak ibadah. Ilmu manfaatnya tidak terbatas, bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi ia membias ke orang lain yang mendengarkannya atau yang membaca karya tulisnya. Ilmu dan pengaruhnya tetap abadi dan lestari selama masih ada orang yang memanfaatkannya, meskipun sudah beberapa ribu tahun. Ilmu pengetahuan juga dapat memperkuat keyakinan manusia akan kebenaran-kebenaran ajaran agama Islam. Berikut ini ada beberapa contoh bahwa ilmu pengetahuan mampu membuktikan kebenaran-kebenaran yang telah dipaparkan di dalam Al Quran sebelumnya, yaitu :

A. Sesaknya Dada

Penemuan para pilot tentang semakin sesaknya dada mereka setiap kali mereka menambah ketinggian di udara sampai-sampai mereka merasa tercekik karena tak mampu bernafas akibat semakin berkurangnya kadar oksigen. Realita ini belum diketahui sebelumnya, orang menganggap bahwa udara tersedia sampai ke planet-planet dan bintang-bintang yang ada di langit. Sedangkan Al-Quran telah mengungkap hakikat ini sejak empat belas abad lebih yang lalu. Allah swt berfirman:

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al-An’am (6): 125).

Maksudnya: Barangsiapa berhak disesatkan Allah swt karena amal-amalnya yang buruk dan permusuhannya terhadap Islam, maka Allah swt menjadikan dadanya sempit bila mendengar mauizhah (nasihat) yang mengingatkannya tentang kebenaran Islam seperti sempitnya dada orang yang naik ke langit. Hal ini tidak diketahui manusia yang tidak beriman sebelum mereka menggunakan pesawat terbang. Lalu apakah Nabi Muhammad saw memiliki pesawat khusus untuk menyampaikan informasi ini? Atau apakah yang disampaikan semata wahyu yang berasal dari ilmu Allah swt?!

B. Informasi tentang Pusat Perasa di Kulit

Dulu orang percaya bahwa saraf perasa terdapat di seluruh tubuh dengan kepekaan yang sama. Namun ilmu pengetahuan moderen mengungkap kekeliruan ini, ternyata pusat kepekaan terhadap rasa sakit dan lainnya terletak pada kulit di mana jarum suntik hanya terasa sakit pada kulit. Al-Quran menyebutkan hakikat ini sebelum penemuan para ahli.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa (4): 56).

Maksudnya: Perasaan sakit menerima azab terpusat pada kulit mereka dan apabila kulit itu telah hangus matang mereka tidak merasakan azab lagi. Oleh karenanya, Allah swt Yang Maha Mengetahui ciptaan-Nya menggantinya dengan kulit yang baru agar mereka tetap merasakan azab.

Apakah Muhammad saw memiliki alat-alat bedah khusus untuk mengetahui informasi ini? Atau apakah ini hanyalah bukti bahwa Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan dengan ilmu-Nya? Maha Benar Allah swt yang telah berfirman:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fushilat (41): 53).

V. Kesimpulan

Pada kenyataannya kita memang tidak bisa mencampuradukkan pola pikir sains dengan agama. Terdapat perbedaan cara pikir agama dengan sains. Agama memang mengajarkan untuk menjalani agama dengan penuh keyakinan. Sedangkan sebaliknya dalam sains, skeptisme dan keragu-raguan justru menjadi acuan untuk terus maju, mencari dan memecahkan rahasia alam.

Sains seharusnya memang dapat diuji dan diargumentasi oleh semua orang tanpa memandang apapun keyakinannya. Semua penganut agama harus memahami bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, dan bukan sebaliknya. Semua penganut agama harus paham bahwa sinar matahari dapat dikonversi menjadi energi. Karena hal ini memang terbukti melalui pendekatan sains.

Belajar sains adalah juga belajar untuk memahami hakekat kehidupan manusia, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dengan belajar sains, kita belajar untuk rendah hati. Oleh karena itu, pembelajaran sains seyogyanya ditujukan untuk peningkatan harkat kehidupan manusia sebagai penghuni alam semesta ini. Dan hal ini telah secara eksplisit dikemukakan dalam semua kitab suci agama, tanpa perlu diperdebatkan atau dikait-kaitkan dengan kaedah sains.

Sains sebenarnya dapat mempertebal keyakinan dan keimanan. Namun demikian iman juga dapat digoyahkan oleh sains seaindainya dicampuradukkan dengan pemahaman agama. Pengkaitan fenomena alam dengan ayat-ayat suci secara serampangan bisa jadi malah akan memberikan pemahaman yang salah. Bagi para agamawan yang kurang memahami sains, tindakan ini akan menyesatkan. Sebaliknya, mengkaitkan sains dengan agama oleh mereka yang tidak atau kurang dibekali agama, bisa membuat kesimpulan yang diambil menjadi konyol dan menggelikan.

Selain para ilmuwan perlu mempelajari dan mendalami agama, para agamawan seharusnya juga mempelajari ilmu pengetahuan alam. Dengan demikian tidak terjadi benturan yang terlalu besar, atau jarak yang terlalu lebar, yang memisahkan kedua prinsip dan sudut pandang antara sains dan agama.

VII. Daftar Pustaka

Bucaille, Maurice. “Bibel, Qur’an, dan Sains Modern”. Diunduh pada tanggal 10 Februari 2007 dari http://media.isnet.org/islam/Bucaille/BQS/ QPengantar1.html

Hardiman, F. Budi. 2007. “Sains dan Pencarian Makna: Menyiasati Konflik Tua antara Sains dan Agama”. Kompas, Edisi Jumat, 02 Februari 2007.

Hawwa, S, 2006, “Mensucikan Jiwa”, Robbani Press, Jakarta

Leksono, Karlina, 2001, “Sains: Mengerti Apa yang Salah”, Majalah Basis Nomor 05-06, tahun ke 506, Juni 2001